Peresmian Jalur Tol Lokataru–Samarangan: Jalan Baru, Ekonomi Baru bagi 1,2 Juta Warga
Setelah empat tahun pembangunan yang diwarnai hambatan teknis, pembebasan lahan, dan pandemi, ruas tol sepanjang 78 kilometer itu akhirnya dibuka untuk umum. Pemerintah daerah memproyeksikan lonjakan aktivitas perdagangan hingga 40% dalam enam bulan pertama. Namun tidak semua warga menyambut euforia yang sama.
LOKATARU — Matahari belum sepenuhnya tinggi ketika rombongan pejabat tiba di Gerbang Tol Samarangan, Rabu pagi. Di sisi jalan, puluhan warga berkumpul — sebagian membawa anak-anak yang baru pertama kali akan melewati jalan tol. Ada yang datang dari desa-desa di Kabupaten Tengah, menempuh perjalanan sejak subuh. Pagi itu, sesuatu yang sebelumnya hanya terlihat di televisi akhirnya hadir di tanah mereka sendiri.
Ruas Tol Lokataru–Samarangan sepanjang 78 kilometer itu resmi beroperasi setelah tertunda dua tahun dari jadwal semula. Menurut Kementerian Pekerjaan Umum, proyek ini merupakan bagian dari program konektivitas regional yang dirancang untuk menghubungkan sentra-sentra produksi di kawasan selatan dengan pelabuhan ekspor di utara.
"Ini bukan sekadar jalan," kata Gubernur Lokataru Pramudya Wisnu dalam sambutannya. "Ini adalah pintu yang selama puluhan tahun kita ketuk-ketuk tanpa pernah benar-benar terbuka."
Angka yang disebut pemerintah daerah memang mengesankan. Proyeksi pertumbuhan ekonomi regional diperkirakan mencapai 7,2% tahun depan — jauh di atas rata-rata nasional. Waktu tempuh Lokataru ke pelabuhan Samarangan yang selama ini bisa memakan 5–6 jam, kini bisa ditempuh dalam 1 jam 20 menit.
🗺️ Tol Lokataru–Samarangan dalam Angka
Antara Harapan dan Keresahan Warga
Di Desa Cikalong, sekitar tujuh kilometer dari pintu keluar Tol Lokataru, suasananya lebih tenang dibanding di seremoni peresmian. Pak Jayadi, 54, pemilik warung kopi di pinggir jalur lama, memandangi deretan truk yang dulu rutin berhenti di depan warungnya — kini mayoritas beralih ke jalur baru.
"Sehari bisa 20, 30 truk yang mampir," katanya. "Sekarang saya hitung hari ini baru tiga."
Cerita seperti Pak Jayadi tidak muncul di pidato peresmian. Namun bagi warga pinggir jalur lama — yang ekonominya selama dekade terakhir dibangun di sekitar arus logistik — tol baru membawa pertanyaan yang belum terjawab: bagaimana mereka akan menyesuaikan diri?
Yang kami lakukan bukan sekadar membangun tol. Kami sedang membuka pintu bagi anak-anak di pelosok untuk mimpi yang selama ini terasa terlalu jauh. Pramudya Wisnu — Gubernur Lokataru, dalam pidato peresmian
Dr. Siti Wardani, pengamat ekonomi pembangunan dari Universitas Gadjah Mada, mengingatkan bahwa dampak infrastruktur besar selalu memiliki dua sisi. "Konektivitas baru menciptakan pemenang dan pihak yang harus menyesuaikan diri. Tantangannya adalah memastikan yang kedua tidak ditinggalkan begitu saja oleh kebijakan."
Pemerintah daerah mengaku sudah menyiapkan program pendampingan bagi pelaku usaha mikro di sepanjang jalur lama. Anggaran Rp 48 miliar dialokasikan untuk pelatihan alih profesi dan skema kredit usaha rakyat. Realisasinya akan dimulai bulan depan.
Investasi yang Sudah Mulai Mengalir
Beberapa minggu sebelum peresmian, sejumlah investor sudah mengantre. Kepala Dinas Penanaman Modal Provinsi Lokataru menyebut ada tujuh investasi senilai total Rp 2,3 triliun yang siap dieksekusi dalam tiga bulan ke depan — mayoritas bergerak di sektor agrikultur, logistik, dan pariwisata.
Kawasan industri baru seluas 340 hektar sedang disiapkan di dekat exit 5, yang diperkirakan akan menyerap sekitar 8.000 tenaga kerja lokal pada tahap pertama.
Sektor yang Paling Terdampak
- Pertanian & hasil kebun — distribusi produk ke pasar ekspor lebih cepat, mengurangi kerusakan pasca-panen
- Pariwisata — destinasi wisata di pedalaman Lokataru yang sebelumnya sulit dijangkau kini dalam radius 2 jam dari kota
- UMKM — peluang baru di area rest stop, namun juga tekanan pada pelaku usaha di jalur lama
- Properti — lonjakan harga tanah di sekitar exit tol, beberapa lokasi naik 3x dalam enam bulan terakhir
Yang Masih Perlu Dijawab
Menjelang tengah hari, suasana di Gerbang Samarangan mulai ramai. Beberapa keluarga sengaja datang untuk "mencicipi" jalur baru — mengabadikan momen di depan papan nama tol, lalu kembali lewat jalur lama. Anak-anak yang tadi terlihat antusias sudah mulai lelah, mengantuk di pangkuan orang tuanya.
Di kejauhan, sebuah truk kontainer besar melaju kencang menuju utara. Di atas bak belakangnya tertulis "PRODUK LOKATARU — KUALITAS DUNIA". Sebuah pesan yang, jika semua berjalan sesuai rencana, akan lebih sering terlihat di tahun-tahun mendatang.
Namun apakah "semua berjalan sesuai rencana" — itulah pertanyaan yang baru akan terjawab, mungkin tidak dalam waktu dekat.
Reporter: Andra Rahmawan, Nurul Rahmi. Foto: Fikri Hanif. Editor: Hardi Pratama. Laporan dari Lokataru dan Samarangan.
Saya warga asli Cikalong. Semoga janji program pendampingan UMKM yang Rp 48 M itu beneran terealisasi. Soalnya warung saya udah sepi banget sejak tol beroperasi meski belum resmi dibuka.
Bagus reportasenya. Dua sisi cerita diangkat, nggak cuma euforia pembangunan. Lebih banyak jurnalisme seperti ini tolong.
Tarif Rp 18.500 untuk golongan I rasanya masih terlalu mahal buat warga lokal yang kerjanya pulang-pergi. Mungkin bisa dipertimbangkan kartu langganan khusus warga Lokataru?