Pada pertengahan 2019, Lokataru Timur belum punya satu pun portal berita sendiri. Apa yang terjadi di kabupaten — pemekaran desa, longsor di Pasirangin, sengketa lahan di Samarangan — hanya muncul di media nasional sebagai catatan pinggir, biasanya sehari atau dua hari setelah kejadian. Banyak cerita tidak pernah muncul sama sekali.
Tiga orang yang kemudian mendirikan Lokatv News waktu itu masih bekerja di tiga tempat berbeda: satu reporter koran regional, satu editor desk ekonomi di sebuah situs berita Jakarta, dan satu mantan wartawan radio yang baru pulang dari menempuh studi jurnalistik di Belanda. Mereka tidak saling kenal sampai seorang kenalan bersama mempertemukan mereka di sebuah kedai kopi di Yogyakarta.
Malam itu, pertanyaan yang muncul sederhana: kenapa tidak kita saja yang mengerjakannya?
Delapan bulan berikutnya adalah tentang pinjaman modal, membeli laptop bekas dari hasil patungan, menyewa ruko seluas 40 meter persegi, dan belajar memasang WordPress dari tutorial YouTube. Artikel pertama yang kami terbitkan adalah reportase tentang petani jagung di Desa Cikalong yang sudah enam bulan tidak menerima pupuk subsidi. Dibaca 42 orang di hari pertama. Tapi tiga minggu kemudian, kepala dinas datang ke desa itu membawa pupuk — setelah laporan kami dibagikan di grup-grup WhatsApp warga.
Tujuh tahun kemudian, kami masih menerbitkan cerita yang dibaca 42 orang di hari pertama — dan kami masih senang setiap kali hal itu terjadi. Tapi kami juga sudah berkembang. Dari tiga orang, menjadi 47 reporter di seluruh Nusantara. Dari satu laptop bekas, menjadi tiga biro di luar Jakarta. Dari 42 pembaca pertama, menjadi 487 ribu pembaca unik setiap minggu — mayoritas dari luar Pulau Jawa.
Tapi di atas semua angka itu, apa yang membuat kami bangun pagi dan membuka laptop adalah: ada cerita yang kalau bukan kami yang tulis, mungkin tidak akan pernah ada yang menulisnya. Dan selama itu masih benar, kami akan terus di sini.